PT. Vale Indonesia Tbk (INCO) Jagoannya Nikel

Bedah Saham INCO: PT. Vale Indonesia Tbk (INCO) Jagoannya Nikel

sinewavemagazine.com – PT. Vale Indonesia Tbk (sebelumnya International Nickel Indonesia Tbk) (INCO) didirikan pada tanggal 25 Juli 1968 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1978. Kantor pusat INCO berlokasi di The Energy Building Lt. 31, SCBD Kavling 11 A, Jl. Jenderal Soedirman Kav. 52-53, Jakarta 12190. Pabrik INCO berlokasi di Sorowako, Sulawesi Selatan.

PT. Vale Indonesia Tbk (INCO) sebelumnya PT. International Nickel Indonesia Tbk adalah perusahaan penanaman modal asing yang mendapat izin dari pemerintah Indonesia untuk mengeksplorasi, menambang, memproses, dan memproduksi nikel. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan Vale. Pada tahun 1978 perusahaan memulai operasi komersialnya.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Vale Indonesia Tbk, termasuk: Vale Canada Limited (58,73%) dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. (20,09%). Vale Canada Limited adalah perusahaan induk INCO, sedangkan Vale S.A., sebuah perusahaan yang didirikan di Brasil, adalah pengendali utama INCO.

Kepemilikan saham INCO terbagi menjadi beberapa bagian, mayoritas dimiliki oleh Vale Canada Limited dengan 43,79%, diikuti oleh PT Indonesia Asahan Aluminium dengan 20% saham, Sumitomo Metal Mining Co. Ltd. 15,03% dan saham publik final adalah 21,18%.

Pangsa INCO naik 74% dibandingkan 6 bulan lalu. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga nikel global yang memicu sentimen positif bagi saham-saham nikel seperti INCO dan ANTM.

Namun, apakah kinerja keuangan sesuai dengan mood positif dan kenaikan harga? Mari kita analisa saham INCO bersama-sama.

Sesuai dengan anggaran dasar perusahaan, bidang kegiatan INCO meliputi eksplorasi, penambangan, pengolahan, penyimpanan, pengangkutan dan pemasaran nikel dan produk mineral terkait lainnya. Saat ini INCO sedang menambang bijih nikel dan mengolahnya menjadi nikel matte (produk yang digunakan dalam pembuatan nikel rafinasi) dengan penambangan dan pengolahan terintegrasi di Sorowako – Sulawesi.

Pada tahun 1990 INCO mendapat surat pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan IPO sebanyak 49.681.694 lembar saham (IPO) INCO kepada publik dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham dengan harga penawaran Rp 9.800 per saham. Saham tersebut dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 16 Mei 1990.

Prospek bisnis INCO

Nikel merupakan logam industri yang sering dibutuhkan terutama untuk industri stainless steel. Sejumlah publikasi menunjukkan bahwa produksi stainless steel global akan terus meningkat sebesar 16% pada tahun 2025, sehingga permintaan nikel global juga akan terus meningkat.

Menurut lembaga riset dan penasehat energi Wood Mackenzie, permintaan nikel untuk industri lain juga akan meningkat sekitar 5% per tahun, dari sekitar 750 kiloton pada 2019 menjadi 980 kiloton pada 2025 dan 2,11 juta ton pada 2040.

Pertumbuhan yang kuat didorong oleh perkiraan konsumsi nikel dalam baterai Li-ion untuk kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi (ES). Selama periode ini, pangsa permintaan nikel global untuk EV/ES akan meningkat dari 4% pada 2018 menjadi 31% pada 2040.

Meski sempat dilanda pandemi COVID-19 dan mengalami penurunan pada triwulan I-2020, permintaan dan harga nikel global mulai meningkat pada awal triwulan II-2020. Pemicunya adalah pemulihan ekonomi di China setelah berakhirnya masa lock-up.

Lonjakan permintaan nikel tak lepas dari dimulainya kembali proyek infrastruktur dan pengembangan teknologi di China, termasuk mobil listrik, yang sebelumnya sempat tertunda dan terhenti.

Permintaan nikel di pasar dunia yang terus meningkat memberikan peluang bagi perseroan untuk mengembangkan usahanya lebih jauh di masa mendatang. PT Vale terus mendorong ekspansi bisnis dengan pembangunan tiga fasilitas pengolahan dan pemurnian

Untuk Sorowako, rencana pengembangan sesuai amandemen KK akan dilaksanakan guna meningkatkan produksi hingga 25%. Upaya perbaikan tersebut dilakukan melalui investasi perbaikan berkelanjutan dan pembangunan lini produksi tambahan RKEF dengan tambahan volume produksi sekitar 10.000 ton.

Dengan kombinasi proyek continuous improvement ini dan penambahan lini produksi, diharapkan target produksi 90.000 ton nikel dapat tercapai sebelum KK berakhir.

Perseroan juga melanjutkan berbagai rencana pengembangan Blok Bahodopi di Sulawesi Tengah dan Blok Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Pada akhir periode pelaporan, pelaksanaan pengembangan kedua blok tersebut memasuki tahap studi kelayakan dan negosiasi dengan calon mitra strategis sedang dalam proses penyelesaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *